Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Dan tidak seorang pun –secara umumnya—diberi kemampuan debat kecuali diharamkan darinya barokah ilmu. Sebab kebanyakan yang suka debat menghendaki untuk menolong pendapatnya semata. Dengan sebab itu diharamkan dari barokah ilmu.

Adapun seorang yang menginginkan kebenaran maka sungguh al-haq itu hal yang mudah lagi dekat, tidak butuh banyak perdebatan. Sebab kebenaran itu terang-benderang.

Oleh karenanya kamu temui ahlul bida’, yang mereka membantah untuk membela kebid’ahan-kebid’ahan mereka, ilmu mereka tidak barokah tidak ada kebaikan di dalamnya.

Simak juga: Tercelanya Debat dalam Urusan Agama

Dan kamu dapati mereka menyanggah dan mendebat yang berakhir tanpa menghasilkan sesuatu. Mereka tidak sampai kepada kebenaran. Sebab mereka tidak menghendaki kecuali untuk menolong apa yang mereka berada di atasnya.

Sehingga setiap orang yang berdebat untuk membela pendapatnya maka keumumannya ia tidak mendapat taufiq (untuk meraih kebenaran). Dan tidak akan menemui barokah ilmu.

Adapun seorang yang berdebat untuk sampai kepada ilmu dan menetapkan yang benar serta membatalkan yang bathil maka yang demikian ini adalah hal yang diperintahkan berdasar firman Allah Ta’ala:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ﴿١٢٥﴾

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Q.S. An-Nahl: 125.

Tafsir Surat Al-Baqarah: 2/ 444 – 445.

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com