Hukum Air Mani dan Shalat Dengan Pakaian Yang Terkena Mani

Hukum Air mani

Pertanyaan:

Bismillah. Semoga Ustadz hafizhahumullah senantiasa dijaga oleh Allah jalla wa ‘ala. Izinkan ana bertanya Ustadz. Apakah air mani termasuk najis? Dan apakah hukum menggunakan pakaian yang terkena air mani untuk beribadah?

Jawaban:

Akramakallah akhil-karim.

Terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hukum air mani. Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah berpendapat bahwa air mani itu najis.

Mereka berdalil dengan beberapa dalil di antaranya hadis ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, no. 229 yang beliau mengatakan,

كنت أغسل الجنابة من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم فيخرج إلى الصلاة وإن بقع الماء في ثوبه.

“Dahulu aku mencuci (bekas) air mani dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menuju shalat sementara kainnya masih terlihat basah.”

Di dalam hadis ini disebutkan bahwa ‘Aisyah mencucinya. Ini menunjukkan bahwa air mani itu najis.

Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, ahli hadis, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan selain mereka dari kalangan para ulama ahlut-tahqiq rahimahumullah, berpendapat bahwa air mani itu suci. Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang banyak di antaranya.

  1. Telah sah hadis-hadis yang menyebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengeruk dengan kukunya mani yang sudah kering dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

لقد كنت أفركه من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم فركا فيصلي فيه.

“Sungguh, aku pernah mengeruk (bekas) air mani dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kemudian beliau shalat mengenakan baju tersebut.” (H.R. Muslim, no. 288)

Jika seandainya mani itu najis, tidaklah hal itu mencukupi melainkan harus dengan air sebagaimana (mencuci) semua najis.

2. Bahwa mani itu asal manusia. Tidak selayaknya asal manusia dari sesuatu yang najis, sementara Allah telah memuliakan manusia. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra: 70)

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan untuk mencuci dan melindungi tubuh dari air mani sebagaimana air kencing.

4. Adapun hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mani itu dicuci, maka tidaklah hal itu menunjukkan akan najisnya mani. Sebagaimana mencuci ingus dan yang semisalnya, tidak menunjukkan akan kenajisannya.

Tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang terakhir inilah yang rajih (kuat).

Untuk mengetahui pembahasan ini silakan lihat kitab-kitab para ulama tentang bab ini. Di antaranya Taisirul-‘Allam, hadis nomor 33.

Jika pakaian seseorang terkena air mani, maka sebaiknya dibersihkan. Dan jika memungkinkan untuk diganti, maka ini yang lebih afdal. Karena berpakaian rapi dan bersih dianjurkan dalam syariat Islam. Namun, jika seseorang shalat dan di bajunya masih tersisa bekas air mani, maka shalatnya tetap sah karena air mani tidaklah najis.

Barakallahu fikum.

Baca Juga

Waktu-waktu Terlarang untuk Shalat

Dijawab oleh: Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah

Sumber: Grup WhatsApp Majmu’ah Al-Fudhail dengan penyesuaian.

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

📲 Ayo Join dan Share:
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
↘️ Faedah:
📚 telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
↘️ Poster dan Video:
🖼 telegram.me/galerifaedah
↘️ Kunjungi Website Kami:
🌏 www.riyadhussalafiyyin.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*