Khutbah Jum’at: Mencari Ridha Istri Mendapat Murka Ilahi

Khutbah Jum'at: Mencari Ridha Istri Mendapat Murka Ilahi

Oleh: Al-Ustadz Abu Abdirrahman Hammam حفظه الله تعالى

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْيَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِل ْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah,

Tak dimungkiri, bahwa seorang yang hendak menikah tentu berangan-angan mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan dalam pernikahannya. Selalu seiya dan sekata dengan pasangan hidupnya. Ia mengharap sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al Quran:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” [Q.S. Ar Ruum: 21]

Nyatalah bahwa memang pasangan memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia. Seorang suami mendamba akan keberadaan istri demikian pula sebaliknya. Dengan pasangannyalah seorang suami bisa meneduhkan pandangannya, mengajaknya bermusyawarah dalam setiap problematika yang ia dapati, mencari solusi masalah, mendapatkan rasa kasih dan sayang serta beragam kebaikan akan diperoleh dari sebab hubungan pernikahan ini.

Memang, mencintai istri dan anak adalah fitrah manusia, inilah cara Allah سبحانه وتعالى melanjutkan keturunan manusia. Bisa dibayangkan jika tidak ada rasa cinta antara laki-laki dan wanita maka tidak ada dorongan nikah, tidak terjadi perkawinan dan tidak ada kelahiran maka musnahlah manusia. Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَ
قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ

“Dicintakan kepadaku dari perkara dunia, para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” [H.R. Ahmad dan An Nasai, hasan shahih lihat dalam aI Misykah]

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Akan tetapi di antara manusia ada yang menjadi durhaka kepada Allah dikarenakan rasa cintanya kepada istrinya. la mencintai istrinya melebihi kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Hal ini menjadikannya lebih tunduk dan patuh terhadap segala keinginan sang istri daripada tunduk dan patuh kepada Allah walaupun harus melanggar perintah ataupun larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Quran, memperingatkan kita akan hal ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri kalian dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. At-Taghabun: 14]

Dalam ayat yang mulia ini, Allah سبحانه وتعالى kabarkan kepada kita tentang adanya sebagian istri maupun anak yang menjadi musuh bagi suami atau ayahnya. Mujahid رحمه الله berkata menafsirkan tentang firman Allah سبحانه وتعالى

إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُم عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ

“Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kaIian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.”

Yakni, cinta seorang suami kepada istrinya membawanya untuk memutuskan silaturahim atau bermaksiat kepada Rabbnya. Si suami tidak mampu berbuat apa-apa karena cintanya kepada si istri kecuali menuruti istrinya.”
(Tafsir AI-Qur‘aniI ’Azhim, 8/111)

Beliau juga berkata, “Kecintaan kepada istri dan anak membawa mereka untuk mengambil penghasilan yang haram, lalu diberikan kepada orang-orang yang dicintainya ini.”
(Al-Jami’li Ahkamil Qur’an, 18/94)

Ya, kecintaan mereka kepada istri mengakibatkan mereka melakukan berbagai larangan dan meninggalkan berbagai macam perintah Allah سبحانه وتعالى karena memperturutkan keinginan istrinya. Kalaulah tidak sampai kepada derajat melanggar larangan Allah dan meninggalkan perintah Allah سبحانه وتعالى maka istri dan anak minimalnya dapat memalingkan mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan membuat mereka lamban untuk taat kepada Allah سبحانه وتعالى. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur‘an, 12/1 16)

Ikhwan fii dien hafizhakumullah,

Allah سبحانه وتعالى menamakan anak dan istri tersebut dengan sebutan musuh, karena musuh adalah mereka yang menginginkan kejelekan bagimu. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله menjelaskan dalam tafsir beliau, ”Ini merupakan peringatan dari Allah سبحانه وتعالى kepada kaum mukminin agar tidak tertipu dan terpedaya oleh istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian.”

Ibnu Katsir رحمه الله menyebutkan pengertian musuh di ayat ini dengan, ”Sesuatu yang melalaikan dari mengerjakan amal saleh.” Hal ini sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى dalam surat aI-Munafiqun ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
[Q.S. Al Munafiqun: 9]

Sehingga tugas kita adalah berhati- hati dari hal yang demikian. Sementara jiwa itu memang tercipta untuk mencintai istri dan anak-anak. Maka Allah سبحانه وتعالى menasehati hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membuat mereka tunduk dengan istri dan anak anak, sementara tuntutan itu mengandung perkara yang dilarang secara syar’i.

Hadirin jamaah shalat Jum’at rahimakumullah

Sesungguhnya kata Azwaj (ْأَزْوَج), dalam ayat mulia ini mengandung pengertian dari dua sisi. Dari sisi suami maka ia bermakna istri dan dari sisi istri ia bermakna suami. Sehingga peringatan dalam ayat ini juga berlaku bagi para istri bahwa sebagian suami ada yang menjadi musuh bagi sang istri, dengan memerintahkannya untuk melanggar perintah dan larangan Allah سبحانه وتعالى. Oleh karenanya hendaknya setiap muslim senantiasa mendahulukan kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى dari kecintaan kepada selain-Nya, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah Iebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai AIIah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
[Q.S. At Taubah: 24]

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya; ”Ada tiga perkara, barangsiapa yang ketiganya ada pada dirinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman. (Tiga perkara tersebut adalah) menjadikan Allah dan Rasul-Nya Iebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang -tidak mencintainya melainkain- karena Allah, dan dia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia membenci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
[H.R. AI Bukhari dan Muslim].

بَارَكَ اللهِ وَلَكُم فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآ يَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًامُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَاوَيَرْضَاهُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ٠أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهَ وَحْدَهُ لا شَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Demikianlah, Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan bahwa di antara sebagian istri dan anak ada yang menjadi musuh yang menghalangi dari kebaikan dan mendorong kepada perbuatan mungkar. Mereka menjadi sebab kemudaratan bagi sang suami atau ayah. Walau begitu Allah سبحانه وتعالى telah membimbing hamba-hamba-Nya dalam menghadapi dan mengatasi hal tersebut. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam kelanjutan ayat tadi,

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mangampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Iagi Maha Penyayang.” [Q.S. At-Taghabun: 14]

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk berhati-hati dari mereka, memaafkan mereka, tidak menghukum mereka. Karena dalam pemaafan ada kemaslahatan/ kebaikan yang banyak. Allah سبحانه وتعالى memberikan tuntunan kepada atau suami agar mengambil sikap pertengahan, jangan berlebih-lebihan atau meremehkan ketika terjadi hal seperti ini.

Mengikuti ajakan keluarga dan mengabaikan seruan Allah adalah sikap meremehkan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingatkan kita dengan kata-kata, “Berhati-hatilah kalian”. Adapun memukul atau menghukum keluarga secara berlebihan, itu adalah sikap melampaui batas. Dalam hal ini Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kita memaafkan mereka. Inilah dua sikap yang benar yang patut diambil oleh seorang ayah atau suami dalam menghadapi keluarga apabila terjadi seperti ini.

Di akhir ayat Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang dua sifat-Nya yang mulia, yaitu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. lni menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى akan memberikan ampunan dan kasih sayang-Nya kepada para ayah atau suami jika mampu merealisasikan sikap yang bijak terhadap istri dan anaknya saat mereka berbuat melampaui batas. Hal itu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan.

Barang siapa yang memaafkan, maka Allah سبحانه وتعالى akan memaafkannya, barang siapa yang mengampuni maka Allah سبحانه وتعالى akan mengampuninya, dan barang siapa yang ber_mu’amalah_ dengan Allah سبحانه وتعالى dengan amal yang dicintai-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mencintainya, demikian pula barang siapa yang ber_mu’amalah_ dengan manusia dengan amal yang dicintai mereka niscaya manusia mencintainya.

Ikhwan (saudara-saudaraku) rahimakumullah,

Demikianlah sunatullah. Allah سبحانه وتعالى jadikan manusia satu-sama lain menjadi fitnah (ujian) bagi manusia Iainnya. Seorang pemimpin menjadi ujian buat rakyatnya, rakyat pun ujian bagi pemerintah. Anak adalah ujian bagi orang tuanya, istri pun bisa menjadi ujian bagi suaminya.

”Dan Dia Iah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang diberikan-Nya kepada kalian.”
[Q.S. Al-An’am: 165].

Oleh sebab itulah sebagai seorang suami atau seorang ayah, kita diwajibkan untuk mendidik anak dan istri. Menasehati dan mengarahkan mereka ke jalan yang lurus. Dan janganlah kita lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah agar memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita dan keluarga kita. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang sifat ibadurrahman (hamba-Nya) yang berdoa kepada-Nya,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

”Yaitu orang-orang yang mengatakan, ’Ya Tuhan kami, karuniakan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).” [Q.S. Al Furqan: 74].

lbnu Abbas رضي الله عنه mengatakan, ”Yaitu mereka yang menaati kita, mereka menjadi penyenang hati kita di dunia dan di akhirat.”

Ada seseorang bertanya kepa Al Hasan, ”Wahai Abu Said, maksud ’Sebagai penyenang hati (kami)‘ dalam ayat ini untuk di dunia dan di akhirat? la menjawab, ”Tidak, untuk di dunia.” Bagaimana itu? “Yaitu, seorang mukmin melihat istri dan anaknya menaati Allah سبحانه وتعالى.”

Mereka meminta kepada Allah سبحانه وتعالى agar Allah سبحانه وتعالى mengaruniakan kepada mereka istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyenang hati. lngatlah, bahwa seiring dengan kesenangan dan kebahagiaan yang Allah سبحانه وتعالى halalkan dalam kehidupan bersama anak-anak dan istri yang kita cintai, ada tanggungjawab yang harus kita pikul sebagai pemimpin keluarga, baik untuk urusan dunia dan yang terpenting adalah urusan akhirat. wallahu a’lam.

Kami sengaja tidak menyertakan doa penutup KHUTBAH JUM’AT agar khatib dapat memilih dan menentukan doa yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sumber: Majalah Qudwah Edisi 28

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*